Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kalian Berpuasa? Sudah Tahukah Sejarahnya?


Sejarah Puasa

Dikatakan, yang dimaksud dengan puasa adalah mengalahkan musuh-musuh Allah SWT, karena sesungguhnya setan menggoda manusia dengan melalui syahwat dan kekuatan syahwat berasal dari makan dan minum. Jadi seseorang tidak bisa mengalahkan musuh Allah dan memecahkan syahwat kecuali dengan menundukkan nafsu dengan cara menyedikitkan makan, oleh karena itu diceritakan asal mula diperintahkan puasa adalah Allah menciptakan akal. kemudian Allah bersabda kepada akal," menghadaplah kepadaku" maka akal menghadap kepada Allah, kemudian Allah bersabda," berpalinglah dariku" maka akalpun berpaling dariNYA, kemudian Akal ditanya, "Siapakah kamu dan siapakah Aku?", Akalpun menjawab," engkau adalah tuhanku dan aku hanyalah hambamu yang lemah". Kemudian Allah bersabda," wahai akal, aku tidak menciptakan sesuatu yang lebih mulia dari pada dirimu".

Tak lama kemudian Allah menciptakan nafsu, dan Allah bersabda kepadanya, " menghadaplah kepadaku!". Dan nafsu tidak menghadap kepada Allah, kemudian ia ditanya, " siapakah kamu dan siapakah aku?". nafsupun menjawab," Aku adalah aku dan engkau adalah engkau". kemudian Allah menyiksanya di neraka selama 100 tahun kemudian Allah mengeluarkannya dan Allah bertanya," siapakah kamu dan siapakah aku?" dan nafsupun menjawab seperti jawaban yang pertama. kemudian Allah menyiksanyya di neraka kelaparan selama 100 tahun, dan setelah dikeluarkan ia baru mengakui bahwa Allah adalah tuhannya dan ia hanya hambanya. itulah sebabnya Allah SWT menetapkan puasa bagi hambanya.

Diceritakan bahwasnya hikmah melakukan puasa selama 30 hari adalah bahwa Nabi Adam AS tatkala berada disurga dan memakan buah khuldi, buah khuldi tetap berada di tenggorokan beliau selama 30 hari, kemudian beliau taubat kepada Allah dan diperintahkan puasa selama 30 hari, karena sesungguhnya kenikmatan dunia ada empat, yaitu makanan, minuman, berhubungan badan, dan tidur, kesemuanya merupakan penghalang bagi manusia dari mengingat Allah. oleh karena itu di wajibkan bagi umat Nabi Muhammad untuk puasa di siang hari dan diperbolehkan makan di malam hari dan itu merupakan anugerah dan kemuliaan bagi kita. 

Ada seorang majusi melihat putranya makan dipasar di bulan Ramadhan dan kemudian ia memukulnya dan berkata," mengapa engkau tidak menghormati orang-orang muslim di bulan Romadhan?". beberapa waktu kemudian majusi tersebut meninggal, dan salah seorang yang alim bermimpi dalam tidurnya, dan ia melihat majusi tersebut berada di ranjang yang indah disurga, dan alim tersebut bertanya kepada sang majusi," bukankah engkau seorang majusi?". Majusi menjawab,"iya, akan tetapi ketika aku dekat dengan waktu kematianku, aku mendengar suara di dekatku yang berbunyi " wahai malaikatku, janganlah engkau meninggalkan hambaku yang majusi ini! dan muliakanlah ia dengan islam sebab ia telah menghormati bulan Romadhan!" ini merupakan pertanda bahwa sang majusi ketika menghormati bulan Romadhan maka ia menemukan keimanannya.

Kewajiban puasa ramadhan telah ada di dalam syariat umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana jelas di dalam ayat: 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa" (QS. Al-Baqoroh: 183).

Sebagian salaf mengatakan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang sebelum kita adalah orang Nashrani, sebagian lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ahlul kitab, sebagian yang lain mengatakan bahwa mereka adalah semua manusia sebelum kita, mereka dahulu berpuasa Ramadhan penuh. Lihat atsar-atsar mereka di dalam Tafsir Ath-Thabary ketika menafsirkan ayat yang mulia ini. 

Kemudian Ath-Thabary menguatkan bahwa pendapat yang paling dekat adalah yang mengatakan bahwa mereka adalah ahlul kitab, dan beliau mengatakan bahwa syariat puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan adalah ajaran Nabi Ibrahim, yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan ummatnya diperintahkan untuk mengikutinya. (Lihat Tafsir Ath-Thabary, tafsir Surat Al-Baqarah: 183)

Adapun kewajiban puasa Ramadhan bagi ummat Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam maka datang melalui 2 fase:

1. Takhyiir (diberi pilihan)
Puasa Ramadhan saat pertama kali diwajibkan, seorang muslim yang mampu berpuasa diberi 2 pilihan, berpuasa atau memberi makan satu orang miskin, akan tetapi puasa lebih diutamakan dan dianjurkan. Berdasarkan firman Alloh ta'aalaa yang berbunyi;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184) [البقرة/183، 184]
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Yaitu dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kalian mengetahui. (QS.Al-Baqoroh: 183-184).
Salamah bin Akwa’ berkata;
كُنَّا فِى رَمَضَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ فَافْتَدَى بِطَعَامِ مِسْكِينٍ حَتَّى أُنْزِلَتْ هَذِهِ الآيَةُ (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه)
"Dahulu kami ketika di bulan Ramadhan pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam, barangsiapa yang ingin berpuasa maka boleh berpuasa, dan barangsiapa yang ingin berbuka maka dia memberi makan seorang miskin, hingga turun ayat Alloh (yang artinya); Barangsiapa yang mendapati bulan (ramadhan) maka dia wajib berpuasa". (HR.Bukhari: 4507, Muslim: 1145)

2. Ilzaam (pengharusan) 
Dalam fase ini maka seorang muslim yang terpenuhi syarat wajib puasa harus berpuasa dan tidak ada pilihan lain. Allah ta'aalaa berfirman: 
(فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه)
Artinya: "Barangsiapa yang mendapati bulan (ramadhan) maka dia wajib berpuasa"
Pada awalnya orang yang tidur sebelum makan (berbuka puasa) atau sudah menunaikan shalat isya maka dia tidak boleh makan, minum, dan berjima' hingga hari berikutnya. Kemudian Allah ta'alaa memberikan keringanan dan membolehkan makan, minum, dan mendatangi istri pada malam hari penuh di bulan Ramadhan. 

Allah ta'aalaa berfirman: 
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ [البقرة/187] 
Artinya: " Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian mengkhianati diri kalian sendiri (yaitu tidak dapat menahan nafsu kalian), karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian, dan makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam" (QS.Al-Baqoroh: 187)

sumber link:-http://farrelsstory.blogspot.co.id
                   -http://www.duniaislam.web.id